HAMIDAH NASUTION

 

                                   

Gambar Buku Lengkap | Kumpulan Gambar Lengkap

PENTINGNYA PENGGUNAAN BAHASA YANG BAIK DAN BENAR SEBAGAI ( MAHASISWA DAN GURU) SERTAKAN DAMPAK POSITIF DAN NEGATIFNYA

 

Indonesia adalah Negara yang dikenal memiliki keragaman budaya, dengan ciri khas dan karakteristik yang berbeda. Walaupun Indonesia memiliki keragaman budaya yang berbeda, mulai dari suku bangsa, ras, bahasa, dan agama, tapi denganperbedaan itulah yang membuat Negara Indonesia berbeda dari Negara lain, walaupun Indonesia memiliki segudang perbedaan tapi tidak menjadikan Negara Indonesia terpecah belah, sesuai dengan semboyannya “Bhineka tunggal ika" berbeda-beda tapi tetap satu. Bahasa Indonesia adalah salah satu yang termasuk dari beberapa perbedaan keragaman budaya di Negara Indonesia tercinta ini, yang mana dalam hal ini sudah sangat jelas, bahwa bahasa Indonesia adalah budaya kebahasaan yang

Masukkan deskripsi gambar atau foto
sudah ada sejak pada zaman dahulu. Bukan hanya itu saja, bahasa Indonesia juga menjadi bahasa resmi di Indonesia.
Peran mahasiswa dalam lingkungan masyarakat
Begitu pula dengan lingkungan masyarakat, kita sebagai mahasiswa yang berpendidikan sudah semestinya bisa memberikan contoh yang baik, yang salah satunya bisa dengan cara menerapkan bagai mana cara berkomunikasi ataupun berinteraksi dengan menggunakan bahasa indoneia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan, dalam artian tidak mengubah kaidah-kaidah kebahasaan yang sudah di tetapkan, karena salah satu penilaian masyarakat untuk melihat kualitas baik atau buruknya seseorang yaitu dilihat bagaimana ia bertutur kata dalam berinteraksi, seperti halnya jika berbicara kepada yang lebih kecil kita harus menggunakan intonasi yang lebih rendah dan tidak berbelit-belit supaya mudah untuk dipahami. Bukan hanya itu saja berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaanya juga bisa menjadi salah satu jalan alternatif untuk belajar menggunakan bahasa-bahasa yang benar bagi para pendengarnya.
Permasalahan yang terjadi di kalangan mahasiswa khususnya dalam bermedia sosial
Dalam hal ini bukan hanya di kalangan masyarakat saja yang harus di perhatikan dalam berbahasa, namun dalam bermedia sosial pada saat ini juga sangat memprihatikan dalam hal penggunaan bahasanya. Dapat kita lihat anak-anak pada zaman sekarang lebih sering menggunakan bahasa gaul dari pada menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah dan kebahasaannya dalam bermedia sosial. Yang mana dalam hal ini akan menumbuhkan dampak yang tidak baik jika terus menerus diabaikan. Salah satu dampak negative dari penggunaan bahasa gaul ialah, mempersulit dalam penggunan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kidahnya itu sendiri, sedangkan di lingkungan Pendidikan atau di lingkungan kerja, kita diharuskan untuk menggunakan bahasa yang tidak menyalahi aturan, dalam artian sesuai dengan konteks kaidah kebahasaan, bukan hanya itu saja, bahasa gaul juga dapat mengusik yang membaca ataupun yang mendengarkan dalam kata yang di ucapkan, karena orang-orang di sekitar kita tidak semuanya bisa memahami maksud dari perkataannya, dan juga bahasa gaul bisa menyulitkan penggunanya dalam berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan orang lain dalam acara yang bersifat formal, seperti dalam presentasi di kelas ataupun di acara-acara formal lainnya (Sari, 2015). Dan anak muda zaman sekarang sudah sangat melekat dengan bahasa gaul itu sendiri dalam bermedia sosial.
 
PAPARKAN PENDAPAT ANDA TERKAIT GURU ADALAH AGEN PENGGERAK PERUBAHAN
 

Berpijak pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang menghadirkan tiga kata kunci yang perlu diterapkan bagi seorang guru, yaitu teladan, motivasi, dan berdaya atau merdeka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Guru Penggerak pada Jumat, 3 Juli 2020. Melalui program ini, Kemendikbud berkomitmen memajukan ekosistem pendidikan di Indonesia yang lebih baik dengan melahirkan agen-agen perubahan yang berpusat kepada murid.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril mengatakan program guru penggerak dituntut untuk berfokus pada pedagogi, serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik. “Guru penggerak ini dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak,” demikian disampaikan Iwan pada Bincang Sore melalui video virtual di Jakarta, pada Senin (13/7/2020).

Analogi berhamba ini, kata Iwan adalah betul-betul totalitas apa yang diberikan oleh guru sebagai pendidik dan semua penggiat yang ada dalam ekosistem pendidikan dengan fokus kepada bagaimana melayani anak. “Inilah sebenarnya yang kita inginkan dari seluruh guru di Indonesia, seperti pesan Ki Hajar yaitu berpusat kepada murid,” kata Iwan.

Oleh karena itu, guru penggerak dituntut untuk dapat menjadi teladan, serta bisa memotivasi sehingga menguatkan kemampuan untuk memberdayakan murid. “Ini yang kita maksud sesuai dengan yang dipesankan oleh Bapak Pendidikan kita. Tumbuh kembang secara holistik yaitu jalan secara cipta, rasa, dan karsa. Tajam pikirannya lalu kemudian halus rasanya, lalu kuat dan sehat jasmaninya,” ujar Iwan.

Untuk itu, guru penggerak hadir sebagai agen perubahan ekosistem pendidikan. Program Guru Penggerak ini bertujuan untuk mencari bibit-bibit pemimpin ekosistem pendidikan di masa depan.
Iwan melanjutkan guru penggerak ini hadir menjadi teman belajar yang penuh inspirasi dan menguatkan semangat bagi guru-guru lain. Bagaimana pun kondisi yang ada, guru penggerak tidak akan patah semangat dan tidak mudah putus asa, tetapi terus berjuang dengan sebaik mungkin. “Ini hal yang sangat penting yang perlu kita terus komunikasikan ke semua pemangku kepentingan,” tutur Iwan.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Zubaidah menilai apabila program Guru Penggerak terlaksana dengan baik maka tidak ada lagi guru yang tidak baik di daerah. Menurutnya, program Guru Penggerak ini sesuai dengan visi dan misi Kota Malang yaitu menjadikan Malang bermartabat melalui pendidikan. “Inilah yang ditunggu oleh orang tua. Peran guru menjadi penggerak, karena sosok guru adalah digugu dan ditiru ini selalu kami ingatkan,” jelas Zubaidah.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perguruan Taman Siswa, Ki Saur Panjaitan mengatakan, guru harus mampu menangani siswa yang unik dan heterogen. “Hadirnya program Guru Penggerak harus mewujudkan guru teladan yang bisa menangani siswa yang unik dan beragam,” ujarnya.

 

DESKRIPSIKAN PENDAPAT ANDA TERKAIT PENTINGNYA PEMILIHAN MODEL ATAU TEKNIK DAN METODE YANG TEPAT DALAM PEMBELAJARAN ( MEMBACA, MENULIS, MENYIMAKDAN BERBICARA DIKELAS RENDAH )

 

Karena luasnya pengartian belajar, maka beberapa ahli memberikan definisi belajar dengan arti yang berbeda-beda  seperti yang ditulis (Khodijah, 2014:47-50), diantaranya yang pertama menurut Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) yang menyatakan "Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya)". Kedua menurut Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978) yang mengemukakan "Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atuau pengalaman". Sedangkan menurut Witherington, dalam buku Educational Psychology menyatakan "Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian".

Dari beberapa definisi belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan artian yang berbeda-beda diatas, dapat disimpulkan bahwa arti belajar sangatlah luas. Akan tetapi jika diperhatikan lebih cermat, maka ditemukan beberapa kesamaan, dan dapat disimpulkan bahwa yang pertama, belajar yakni suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku seseorang, artinya seseorang yang mengikuti suatu proses belajar, tingkah dan perilakunya akan berbeda dengan orang yang tidak mengikuti proses belajar.

Seorang yang belajar maka tingkah lakunya lebih santun, karena dalam proses belajar mengajar seorang pendidik atau guru akan mengajarkan kepada anak didiknya bagaimana cara bertingkah laku yang baik, sopan, dan santun. Berbeda dengan yang tidak pernah mengikuti proses belajar, dapat dipastikan bahwa tingkah lakunya tidak sopan dan sesantun dengan peserta didik yang mengikuti proses belajar. Contohnya seperti anak yang bersekolah, dengan anak-anak jalanan. Jelas keduanya akan bertingkah laku yang berbeda.

Yang kedua disimpulkan bahwa belajar yakni proses dimana peserta didik akan dilatih keterampilan dan kemampuannya, artinya yaitu seorang peserta didik dalam proses belajar akan dilatih kemampuan yang dimilikinya, tidak hanya mengembangkan bakat yang dimilikinya tetapi juga membentuk kemampuan baru dan menggali potensi yang ada. Dalam proses belajar, seorang peserta didik akan mengalami peningkatan pengetahuan dalam setiap masanya. Contoh dalam kehidupan sekitar kita seperti orang berpendidik akan bekerja lebih baik daripada orang yang tidak berpendidik, itu membuktikan bahwa pendidikan atau proses belajar memang sangatlah berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang Dalam psikologi pendidikan sendiri ada beberapa teori yang muncul tentang belajar. Karena dengan adanya perkembangan psikologi dalam pendidikan, muncul berbagai teori tentang belajar, diantaranya ada tiga teori yaitu teori belajar psikologi behavioristik, kognitif, dan humanistis. Teori belajar psikologi behavioristik sendiri dikemukakan oleh para psikologi behavioristik. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh hadiah (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan.

Dengan demikian dalam teori ini dijelaskan bahwa tingkah laku peserta didik dalam belajar ada hubungannya dengan latar belakangnya. Teori ini dikemukakan oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Guthrie. Sedangkan teori belajar psikologi kognitif dijelaskan bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol dengan hadiah atau penguatan saja. Mereka para ahli kognitif menjelaskan bahwa tingkah laku manusia berdasar pada wawasan yang dimilikinya. Teori ini muncul dan berkembang ketikaadanya teori belajar "Gestalt", adapun beberapa ahli yang meneliti teori ini adalah Mex Wertheimer (1880-1983), Kurt Koffka (1886-1941), Kohler (1887-1959). Dan teori belajar psikologi yang terakhir yaitu humanistis, yakni proses belajar yang diyakini ada hubungannya dengan pengalaman yang didapat. Penyajian materi dalam teori ini haruslah dengan perasaan dan perhatian pada peserta didik. Adapun ahli psikologi yang mempelopori teori ini yaitu Combs, Maslov, dan Rogers.

Begitu banyak teori-teori tentang belajar yang dipaparkan oleh beberapa ahli dan mengandung pengertian yang berbeda-beda, tetapi tetap dengan makna yang sama, yakni merubah. Karena dalam proses belajar, tentunya aka nada perubahan, baik dari segi pemikiran, pengetahuan, tingkah laku, ataupun keterampilan. Walaupun nantinya setiap individu akan berbeda hasil perubahannya, tetapi tetap akan terjadi perubahan yang nyata. Misalnya saja dalam suatu kelas, tidak selalu semua peserta didik yang ada akan sama tingkatan kemampuannya, tentu akan berbeda-beda. Tetapi dengan adanya proses belajar peserta didik tersebut tetap akan mengalami peribahan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa.
Dalam proses belajar, tentunya akan ada metode belajar yang diterapkan oleh pendidik. Dan setiap pendidik, tentu mempunyai metode-metode yang berbeda-beda untuk membangun situasi kelas atau proses belajar yang bisa membuat nyaman para peserta didiknya. Pendidik juga harus memperhatikan dalam pemilihan metode yang akan diterapkan. Seorang pendidik harus mengetahui dulu bagaimana latar belakang peserta didiknya agar bisa menerapkan metode yang pas sesuai porsinya. Hal ini bertujuan agar peserta didik juga bisa ikut nyaman dengan proses belajar yang ada dan bisa berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Adapun bentuk atau metode belajar pada umumnya yaitu ada belajar abstrak, dimana dalam metode ini peserta didik diminta untuk menggambarkan dalam pikirannya secara abstrak. Tujuan dari metode ini yaitu agar peserta didik dapat memecahkan masalah yang tidak nyata. Contohnya seperti, belajar astronomi, tentunya kita tidak tahu betul bagaiman wujud dari luar angkasa, bintang-bontang, dsb. Kedua ada belajar keterampilan, yakni pembelajaran dengan menggunakan gerakan motorik, biasa kita jumpai pada pembelajaran olahraga.

Ketiga ada belajar sosial, dasar dari metode ini yakni agar peserta didik dapat memahami masalah-masalah dan dapat memecahkan masalah tersebut, seperti dalam pembelajaran PPKN, peserta didik diminta untuk memahami masalah perbedaan antara ras, suku, budaya, adat dalam setiap daerah di Indonesia, dan diharap dapat memecahkan masalah tersebut. Kemudian ada belajar pengetahuan, dimana peserta didik akan belajar dengan melakukan penyelidikan dan pendalaman terhadap suatu objek. Contohnya dalam pembelajaran sains, dimana peserta didik akan dihadapkan pada penelitian menggunakan alat-alat laboratorium, tujuannya agar peserta didik dapat menyelesaikan atau memahami suatu pengetahuan dengan cara khusus.

Tidak hanya metode pendidik yang digunakan untuk bisa menciptkan suasana pembelajaran dengan nyaman dan sesuai harapan, peserta didik juga ikut berperan didalamnya. Peserta didik juga harus menempuh beberapa tahapan dalam belajar. Sesuai dengan apa yang dikatakan Albert Bandura (dalam Syah,2005) yaitu suatu proses perubahan atau aktivitas belajar mengandung tahapan-tahapan yang satu dengan yang lainnya berkaitan. Adapun tahapan yang dimaksud yakni ada empat tahapan, tahap perhatian (attentional phase), tahap penyimpanan dalam ingatan (retention phase), tahap reproduksi (reproduction phase), tahap motivasi (motivation phase).

Pada tahap perhatian, peserta didik harus memfokuskan perhatiannya dalam teori yang disampaikan oleh pendidik. Jika peserta didik gagal dalam memberikan perhatianya maka teori yang disampaikan akan gagal. Oleh karena itu, seorang guru harus memberikan suatu metode yang menarik agar peserta didiknya dapat terfokus dan memperhatikan dengan baik. Pada tahap penyimpanan ingatan, peserta didik yang berperan besar pada tahap ini. Materi yang disampaikan oleh guru harus di ingat dan dipahamkan dengan baik, sehingga akan tertanam dalam ingatan. Tetapi pada masing-masing peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengingat, sehingga peserta didik harus mempunyai cara-cara tertentu untuk bisa mudah mengingat materi yang dismapaikan oleh guru.

Disini peran guru juga bisa di salurkan, seperti adanya evaluasi materi yang disampaikan. Sedangkan pada tahap reproduksi, dimaksudkan bahwa seorang peserta didik akan jauh lebih mudah mengingat suatu materi dengan adanya pengucapan simbolis. Sehingga guru bisa membuat isyarat pada suatu materi yang disampaikan agar peserta didk jauh lebih mudah dalam memahami dan mengingatnya. Dan tahap motivasi yakni tahap dimana akhir dari semua tahap. Agar peserta didik bersemangat dalam proses belajar, guru juga harus memberikan apresiasi atau reward pada peserta didik yang mampu menjalankan kegiatan belajar dengan baik, seperti pemberian pujian, hadiah, atau apresiasi nilai yang baik. Dan sebaliknya sikap yang diberikan oleh guru pada peserta didik yang kurang berprestasi mungkin bisa dengan memberikan pengertian atau nasehat, dan jika perlu seorang guru bisa memberikan suatu hukuman yang edukatif terhadap peserat didik. Hal ini bisa mendorong peserta didik agar lebih aktif dalam suatu proses pembelajaran.

Pada intinya, belajar adalah kegiatan atau proses dalam meningkatkan pola pikir dan memperbaiki perilaku manusia. Hakikatnya belajar tidak ada batasan umur. Semua manusia berhak dalam mengikuti proses belajar. Dan tidak hanya dalam lingkup sekolah saja, belajar juga bisa dilakukan dengan pengalaman yang ada.

Proses belajar sendiri di dalamnya terdapat hubungan guru dengan peserta didik yang harus dibangun dengan kekompakkan, agar prsoses belajar yang ada dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Seorang guru harus memiliki metode yang baik dan tepat dalam penggunaan pengajaran pada peserta didik, dan peserta didik harus melewati tahapan belajar dengan baik, yaitu bisa fokus dalam proses belajar dan mengingat materi yang sudah disampaikan, agar proses belajar yang dilakukan berhasil dengan baik.

PENTINGNYA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK TINGKAT SEKOLAH DASAR 

 

Pada kenyataannya pengajaran sastra di sekolah dasar belum berjalan dengan baik masih terdapat berbagai kendala salah satunya, yaitu kurangnya minat baca siswa. Sastra seharusnya menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan karena dengan mengenalkan sastra kepada siswa akan meningkatkan daya imajinasi dan kreatifitas yang dimilikinya. Selain itu, sastra juga dapat mengembangkan minat baca siswa dan mengajarkan nilai moral kehidupan.

Sastra yang diajarkan di sekolah dasar adalah sastra anak. Sastra anak merupakan sastra yang memang disajikan khusus untuk anak-anak dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisnya juga dilakukan oleh orang dewasa (Davis 1967 dalam Sarumpet 1976:23). Jenis sastra anak, yaitu prosa, puisi, dan drama yang terdapat dalam materi pembelajaran. Sastra yang diajarkan tentu saja adalah sastra yang bertema ringan atau sesuai dengan usianya. Pengajar bisa mengenalkan sastra melalui buku bacaan, seperti buku cerita fabel, legenda, dongeng, dan lain-lain. Mengenalkan sastra melalui buku cerita adalah salah satu cara yang tepat karena buku cerita memiliki tema yang beragam dan bervariasi, selain itu juga di dalam buku cerita, seperti dongeng dan fabel terdapat banyak gambar yang tentu saja akan disukai oleh anak-anak.

Pembelajaran sastra di sekolah dasar merupakan salah satu bentuk kegiatan apresiasi sastra anak yang dilakukan oleh siswa. Maksud dari apresiasi sastra dalam konteks ini adalah kesadaran siswa terhadap nilai-nilai moral kehidupan yang terkandung dalam sastra anak dan penilaian serta penghargaan siswa terhadap sastra anak. Dalam buku “Kecerdasaan Spiritual Anak Melalui Pembelajaran Membaca Sastra” karya Prima Vidya Asteria, terdapat beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai salah satu kegiatan apresiasi sastra, yaitu:

  1. Kegiatan apresiasi langsung, seperti membaca sastra anak, mendengar sastra anak ketika dibacakan, dan menonton
  2. Kegiatan apresiasi tidak langsung, seperti mempelajari teori sastra, kritik sastra, esai sastra, dan sejarah sastra.
  3. Pendokumentasian sastra anak, seperti membuat kliping atau membuat jurnal membaca karya sastra anak.
  4. Melatih kegiatan kreatif menciptakan sastra atau dengan mengulas kembali karya sastra yang dibaca, didengar, atau ditontonnya. 

    Untuk meningkatkan minat baca anak terhadap sastra, pengajar harus mengajarkan sastra setiap hari agar pengenalan atau pengajaran sastra menjadi lebih efektif, contohnya menerapkan program “One Day One Book” yang dilakukan sebelum jam pelajaran dimulai karena pengajaran sastra tidak hanya saat pembelajaran bahasa Indonesia saja tetapi bisa dilakukan di luar jam belajar. Maka dari itu, sastra yang diberikan kepada siswa sekolah dasar harus dikemas semenarik mungkin karena biasanya anak akan cepat bosan dengan sesuatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. Dalam hal ini pengajar harus menggunakan metode yang tepat yang sesuai dengan keadaan masing-masing siswa.

    Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan pengajar untuk meningkatkan minat baca, sebagai berikut:

  5. Pengajar menyediakan sebuah teks drama. Pada metode ini siswa diberi petunjuk untuk membaca dan memahami teks drama, setelah itu mintalah siswa untuk menceritakan kembali isi dari naskah drama tersebut.
  6. Membaca puisi. Pada metode ini siswa membaca puisi yang sudah disediakan secara berkelompok, tetapi tetap pengajar memberi pengarahan kepada siswa untuk memahami isi dari puisi tersebut. Setelah itu, tanyakan kepada siswa tentang unsur-unsur puisi, seperti menanyakan tema, latar belakang, nasihat dan pesan moral apa yang terkandung dalam puisi tersebut.
  7. Membuat perpustakaan kecil di kelas yang ditempatkan di depan kelas dengan rak-rak kecil yang berisi buku-buku. Hal tersebut dilakukan agar memudahkan siswa untuk mengambil buku bacaan tanpa harus ke luar kelas untuk meminjamnya di perpustakaan sekolah.

Jika pengajar menggunakan buku cerita sebagai media pengajaran sastra maka harus mengamati atau mengobservasi terlebih dahulu jenis cerita apa yang disukai oleh siswa dan harus mengetahui seperti apa karakter dari masing-masing anak. Jangan menganggap bahwa setiap anak pasti akan suka untuk bersastra atau membaca buku. Ada anak yang memang pada dasarnya sudah dikenali dengan dunia sastra dari lingkungan keluarganya dan ada anak yang sebelumnya memang belum pernah dikenali dengan sastra. Maka dari itu, sebagai pengajar seharusnya tidak lagi mengajar secara satu arah atau tidak monoton, tetapi membelajarkan anak secara aktif, inovatif, dan kreatif.

Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan oleh para pengajar, selain menggunakan media buku untuk meningkatkan daya minat anak terhadap sastra.

  • Melakukan suatu kegiatan yang berhubungan dengan sastra, seperti mengadakan lomba yang bertema sastra, contoh lomba membaca puisi untuk kelas 1 dan 2, lomba membuat cerpen untuk kelas 3 dan 4, serta lomba musikalisasi puisi untuk kelas 5 dan 6.
  • Menggunakan metode menyimak. Siswa mendengarkan teks pendek bisa berupa teks dongeng dilakukan dengan menyimak cerita secara seksama dengan memperhatikan kosakata baru yang belum dikenal.
  • Mengadakan acara drama yang dilakukan setiap satu tahun sekali yang dipentaskan oleh seluruh kelas.
  • Pemberian tugas. Berilah tugas kepada siswa, seperti membuat cerpen dan membuat puisi.

Metode pembelajaran yang tepat diperlukan untuk memperoleh hasil yang efektif dan efisien agar tujuan dari pengajaran bisa tersampaikan dengan baik kepada siswa. Jika metode yang dipilih tidak efektif maka proses belajar dan mengajar akan mengalami kesulitan.

Mengajarkan sastra di tingkat sekolah dasar bukanlah hal yang mudah karena terdapat beberapa tingkatan kelas, contohnya kita tidak bisa langsung menugaskan siswa kelas 1 untuk membuat sebuah puisi biasanya hanya membaca puisi saja. Pada kelas ini biasanya metode yang digunakan adalah dengan membaca atau mendengarkan sebuah cerpen atau fabel. Untuk menulis puisi bisa dimulai dari kelas 3. Mengajarkan sebuah sastra kepada anak menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan pengajar karena dengan mengenalkan sastra sedini mungkin akan mempermudah siswa dalam berimajinasi sehingga siswa nantinya dapat membuat karya sastra sendiri.

Pengajaran sastra di sekolah dasar harus lebih ditekankan lagi karena mengingat betapa pentingnya sastra bagi kehidupan. Di era yang modern sekarang banyak platform digital yang bisa dijadikan sebagai media pengajaran sastra, sudah banyak buku digital yang disediakan, tetapi menggunakan internet untuk pengajaran sastra di sekolah dasar ini sepertinya kurang efektif karena masih banyak hal-hal negatif yang bisa terjadi apalagi untuk anak-anak usia dini. Maka dari itu, pengajaran sastra yang diajarkan secara langsung oleh guru atau pengajar adalah metode yang paling tepat. Jangan sampai pengajaran sastra khususnya di sekolah dasar ini dianggap sebagai pembelajaran yang tidak wajib diajarkan.


 

Komentar

  1. Pembahasan mudah dipahami dan sangat ringkas

    BalasHapus
  2. Materi yang dipaparkan singkat dan jelas.

    BalasHapus
  3. Mantap , sangat menginspirasi pembaca

    BalasHapus
  4. MANTAP HAMIDAH,MRMBANTU MENAMBAH REFERENSI BACAAN BAGI YANG INGIN MENCARI INFORMASI TERKAIT MATERI YANG DISAJIKAN 🔥

    BalasHapus
  5. Thank you referensi nya sangat mudah di pahami

    BalasHapus
  6. Mantap, materinya sangat mudah dan dipahami🔥

    BalasHapus
  7. Bagus materinya cuman tidak ada ya dampak positif dan negatif nya bagi guru dan mahasiswa. Pdhal judulnya ada terkait dampak tersebut:(

    BalasHapus
  8. jelas untuk materi yang diberikan ,,, nice mantappppppp

    BalasHapus
  9. materinya bagus dan disertai pendapat ahli, lebih baik lagi jika ditambahkan dampak positif dan negatifnya

    BalasHapus
  10. Materinya bagus dan mengedukasi, ditunggu karya selanjutnyaa..

    BalasHapus
  11. Materi yang di paparkan singkat, jelas dan mudah dipahami👍🏻

    BalasHapus
  12. Materi yang disajikan bagus dan mudah dipahami. Hanya saja belum ditambahkan dampak positif dan negatif yang berkaitan dengan judul.

    BalasHapus
  13. Materi yang dipaparkan singkat dan jelas

    BalasHapus
  14. Bagus materinya dan mudah dipahami, semoga materi yang kakak paparkan bermanfaat bagi kita dan pembaca lainnya 👍

    BalasHapus
  15. Materi sangat bagus dan mudah untuk dipahami

    BalasHapus
  16. materinya sangat bagus dan mudah dipahami

    BalasHapus
  17. Semoga temen " rajin membaca tulisan " temen kita ya agar kakak yang menulis karya ini pahala nya berjalan 👍 karna kita dapat pemahaman yang baik

    BalasHapus
  18. Terimakasih Materi nya mudah untuk dipahami 😍 sangat membantu dan menambah wawasan bagi pembaca

    BalasHapus
  19. Materi yang bagus dan mudah di pahami

    BalasHapus
  20. MasyaaAllah, terimakasih untuk ilmunya kak... Alhamdulillah mudah dipahami

    BalasHapus

Posting Komentar